TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG DI WEBSITE SMA NEGERI 2 LIWA

BELAJAR DI RUMAH | Cerpen


Matahari mulai menampakkan diri, unggas telah di keluarkan dari kandang. Aku tengah berada di kamarku, berkutat dengan buku, pena serta gawaiku. Pandanganku lurus kedepan menatap tinta hitam yang disebut tulisan, alisku berkerut menandakan kebingungan tengah melanda diriku. Suara ketukan pintu yang terus menyuruhku membukanya dan melaksanakan tugas rumah tak kuhiraukan. Aku terlalu serius dengan pekerjaanku ditambah pemikiran bahwa aku harus jadi orang pertama yang mengumpulkan tugas semakin membuatku menulikan pendengaran. Tapi gedoran di luar sana bertolak belakang dengan keinginanku,
“Oh ayolah akan ku kerjakan tugas rumah jika tugas sekolahku telah usai”, batin ku.
Tapi lagi, pintu diketuk semakin keras, membuatku berjalan gontai menuju pintu kamarku. Hal pertama yang kulihat dibalik pintu adalah sosok ibuku yang tengah menggenggam centong sayur, dengan tatapan tajamnya yang seakan berusaha mengulitiku hidup-hidup. Aku berusaha menatap mata itu dengan mengumpulkan sedikit keberanian dalam diriku, menawarkan negosiasi yang hanya menguntungkanku. Namun, negosiasi itu berakhir sia-sia, dimenangkan secara mudah oleh ibuku dengan senjata pamungkasnya yang tak bisa ku lawan,

Gurumu pasti memberikan tenggang waktu yang banyak untuk mengerjakan tugas, minimal 2 sampai 3 hari. Tak perlu terobsesi menjadi yang pertama mengumpulkan tugas, jadi yang terakhir tapi mendapat nilai yang sempurna pun tidak masalah. Sudah cepat, sapu rumah dan cuci piring kotor di dapur. Anak tetangga sebelah bahkan sudah menyelesaikan tugas rumahnya dari tadi”. 



Baiklah jika Beliau telah berkata begitu, yang bisa kulakukan hanya menuruti kemauannya, tak bisa membantah karna aku memang tak berani membantah.

Setelah selesai mengerjakan tugas rumah, aku lari terbirit-birit dari dapur menuju kamarku, mengambil gawai pintarku yang sudah memiliki beberapa notifikasi didalamnya. Aku menghela nafas pelan, melihat beberapa temanku telah selesai mengerjakan tugasnya. Keinginanku untuk menjadi yang pertama mengumpulkan tugas pupus sudah. Tapi aku harus tetap mengerjakan tugasku, jika aku ingin mendapatkan nilai dari guru. Baru setengah perjalanan mengerjakan tugas, pintu kamarku kembali tergedor, aku bahkan takut, 2 atau 3 hari lagi pintu kamarku bisa rusak nantinya. Terdengar teriakan meminjam HP dari balik sana. Itu adikku ingin bermain game kesukaannya di gawaiku. Aku balas berteriak dari dalam kamar, mengadukan perbuatan adikku yang tengah menggangku mengerjakan tugas pada ibu, padahal tadi ayahku telah mewanti-wanti agar ia tak membuat keributan di pagi hari. Tapi sekeras apapun ibuku menghalanginya, adikku tetap menang dalam keras kepalanya, sehingga tugas sekolah ini harus ditunda lagi untuk yang kedua kali.
Setelah puas dengan permainannya, adikku mengembalikan HP-ku tapi dalam keadaan baterai yang hampir habis. Setelah hampir 2 jam mengisi baterai, akhirnya aku bisa melanjutkan tugasku. Lagi-lagi aku menghela nafas pelan, temanku yang telah selesai mengerjakan tugas makin bertambah, kini sudah dalam belasan. Aku memutuskan untuk langsung mengerjakan tugasku, semangat untuk mengerjakan tugas telah hilang karena adegan penundaan yang terjadi hampir seharian.
Keseharianku yang sudah hampir sebulan ini kujalani memberikan kesan yang tak biasa bagi diriku. Semua yang kualami sangat unik. Gangguan-gangguan yang terjadi saat akan mengerjakan tugas termasuk hal yang menarik untuk kuceritakan, dan hal yang menarik untuk kuingat.Terlebih lagi aku anak kost yang jarang berkumpul dengan keluarga. Yah belajar dirumah selama Corona berlangsung tidak seburuk yang kupikirkan. Kegitan ini memberikanku kenangan yang manis bersama keluarga, dan memberikanku sensasi yang berbeda ketika belajar.
===================
Oleh Tiara Putri Berliani, Kelas XI MIPA 3

Posting Komentar

0 Komentar